Demikian salah satu
petikan ceramah yang disampaikan Pak Cah (Cahyadi Takariawan) dalam suatu acara
Seminar Parenting di Gedung DPRD Kudus, Sabtu 30 Nopember 2013.
Anak merupakan
amanah dan anugrah dari Alloh SWT kepada kita para orang tuanya.Terimalah
bagaimanapuan keadaan anak-anak kita, karena anak-anak kita belum selesai
dengan sejarahnya. Bisa jadi anak-anak kita yang sekarang kita anggap anak yang
sholih/sholihah dikemudian hari akan menjadi orang yang jahat, atau sebaliknya
anak kita yang kita anggap nakal tapi siapa tahu kelak mereka akan menjadi
orang yang hebat.
Yang kita perlukan
adalah selalu membersamai tumbuh kembang anak-anak kita. Pak Cah menambahkan,
ketika kita anak kita yang semasa kecil rajin ke masjid, suka mengaji, tapi
ketika dewasa si anak mulai malas dan bahkan tidak mau pergi ke masjid. Dengan
kesal orang tua anak tersebut berkata “ Waktu kamu kecil kamu tidak seperti ini
nak.., waktu kecil kamu rajin pergi ke masjid. Kamu sudah tidak seperti yang
dulu…”
Ungkapan yang
demikian menurut Pak Cah menunjukkan kita tidak pernah membersamai dan
mengikuti perkembangan anak kita.
Selain berbicara
tentang anak, Pak Cah juga berbagi pengalaman tentang kiat-kiat agar kita hidup
harmonis bersama pasangan kita. Ucapan, perbuatan, sikap kasar dan emosional
yang kita lakukan kepada pasangan, bisa membentuk endapan di dasar hati.
Seperti permukaan danau yang tenang, menjadi bergolak ketika dilempari batu.
Sesaat saja bergolak, setelah itu kembali tenang. Namun tenang yang kedua
berbeda dengan ketenangan pertama. Karena sudah ada endapan batu di dasar
danau, yang semula tidak ada.
Suami yang berlaku kasar kepada
isteri, atau isteri yang berlaku kasar kepada suami, sama dengan melemparkan
batu ke dasar hatinya. Mungkin sesaat isteri tampak sedih dan menangis atas
petbuatan kasar suami, setelah itu kembali tenang. Namun kondisinya berbeda,
karena sudah ada batu yang mengendap di dasar hatinya. Semakin sering berlaku
kasar, semakin banyak pula batu yang mengendap di dasar hati pasangan kita.
Endapan batu ini harus diambil sampai bersih, agar
tidak menjadi ganjalan seumur hidupnya.
Selain itu Pak Cah
juga menyinggung tentang perbedaan karekter antara laki-laki dan perempuan. Perempuan
secara umum memiliki kemampuan multitasking. Bisa mengerjakan 4 sampai 5
aktivitas dalam waktu bersamaan. Bahkan lebih. Lihatlah apa yang dilakukan para
isteri dan ibu tiap pagi. Dua tungku kompor menyala; merebus air dan memasak
sayur. Magic jar dihidupkan untuk menanak nasi. Di sebelah sana mesin cuci
beroperasi. Memasak sambil menggendong bayi dan menyapu lantai. Masih ditambah
mendengarkan pengajian Mamah Dedeh di televisi. Sedang laki-laki cenderung
mengerjakan suatu pekerjaan secara serial. Setelah menyelesaikan pekerjaan baru
ia akan beralih ke pekerjaan selanjutnya. Hal ini apabila tidak disikapi dengan
bijak akan menimbulkan konflik yang akan mempengaruhi hubungan suami-istri



0 komentar:
Posting Komentar