![]() |
| Di sela-sela demontrasi pro-Presiden Mursi, para demonstran tak melupakan keutamaan Ramadlan dg Tilawah |
Bila di Indonesia umat Muslim menyambut kedatangan bulan suci Ramadan
dengan berbagai spanduk, poster, atau anak-anak muda nongkrong untuk
balapan motor tiap pagi, di Mesir tidak demikian.
Umat Islam menyambut Ramadan dengan lampion. Kerlap-kerlip lampu lampion
dipasang di teras rumah, deratan lampu warna warni menghiasai gang-gang
di jalanan Ibu Kota, Kairo.
Sudah empat tahun terakhir bulan Ramadhan di Negeri Kinanah jatuh pada
Musim panas, kumandang adzan Subuh pukul 04.00 dini hari waktu Mesir dan
baru berbuka menjelang Maghrib pukul 19.00 sore. Namun hal itu tidak
menurunkan semangat berpuasa mereka.
"Kami, warga Mesir, sudah terbiasa dengan cuaca panas, lagipula di hari
puasa biasanya kami akan beristirahat selepas shalat Dzuhur, hanya
melakukan aktfiitas ringan di rumah sampai menjelang shalat Ashar,
kemudian kami bekerja kembali," jelas Ra'fat Abdu Tawwab, Staf
Kepolisian Kairo ketika ditemui hidayatullah.com di Masjid Al Azhar.
"Kami biasanya menunaikan shalat Tarawih langsung selepas shalat Isya. 8
Rokaat ditambah witir 3 rakaat. Kebanyakan masjid membaca satu juz
dalam setiap malam," lanjutnya.
Menjelang berbuka puasa, bertebaran Maidah Rahman, begitu orang Mesir
menyebutnya. Tidak hanya di masjid, Maidah Rahman banyak digelar di
sepanjang tepi jalan. Maidah Rahman adalah tempat berbuka puasa gratis
yang diperuntukan bagi siapa saja yang mau.
Menunya macam-macam, dari roti, sirup, sampai makanan besar seperti ayam dan nasi tersedia setiap hari selama bulan Ramadhan.
Bukan hanya orang Mesir, Maidah Rahman menjadi incaran para mahasiswa Indonesia di sini. Lumayan, gratis.
"Terserah mau buka puasa pakai apa, kalau mau ayam bakar di Rab'ah,
kalau mau semur ayam di masjid Istiqamah, Hay 'Asyir," terang Abdillah
Mahasiswa Al Azhar asal Indonesia.
"Pokoknya tenang aja, selama bulan Ramadan nggak perlu keluar biaya
makan," jelas Abdullah Mahasiswa Al Azhar asal Nusa Tenggara Barat.
Pulang Kampung
Keadaan politik Mesir pascakudeta mantan Presiden Muhammad Mursi masih
juga belum stabil. Hal itu membuat sebahagian mahasiswa mancanegara ada
yang memilih pulang kampung.
Namun bagi Bahrul Ilmi, salah satu mahasiswa asal Indonesia justru memilih Ramadhan di tempat ini.
"Kalau saya pribadi berharap Mesir kembali stabil, karena Ramadan
Mubarak di Mesir itu luar biasa," terangnya merujuk pada pengalaman
Ramadhan tahun lalu yang dilewatinya di negeri kelahiran para Nabi
tersebut.
Menurut Najib, mahasiswa asal Indonesia. Ramadan di Mesir memiliki makna
yang mendalam, tidak seperti di Indonesia. Di Mesir suasana Ramadan
sangat kentara. Orang membawa al-Quran di mana-mana dan membaca tanpa
malu di berbagai tempat. Di bus, pasar, jalan, dan tempat kerjaan. Semua
berlomba-lomba mencari berkah.
"Orang orang membaca al-Qur'an di jalanan sudah pemandangan biasa," Najib asal Indonesia.
![]() |
| "The most beautiful prayer group possible in your life" (ditengah suasana demo pro Mursi) |



0 komentar:
Posting Komentar